Sabtu, 12 Agustus 2017

Menua Bersama

Tidak ada yang salah dari mimpi ingin menua bersama.

Sehidup semati.

Saling belajar mencari jalan untuk meniupkan energi kebahagian untuk dia yang diajak menua bersama.

Mimpi menua bersama butuh kesadaran penuh dari dua jiwa yang saling menggenggam.

Tak terlepaskan meski sekejap.

Belajar meninggalkan masa yang sudah berlalu.

Dengan menggapai mimpi baru.

Menua bersama.
 
Menua bersama bukan perkara menghabiskan waktu menanti rambut putih tumbuh mendominasi warna.

Tapi mengisi hati, menuai cinta dan meyakinkan jiwa bahwa mimpi menua bersama bukan perkara mimpi semata.

Namun perkara menjadikan itu sebuah wujud nyata.

Yakni, menua bersama.

Kepercayaan adalah barang ringkih yang menjadi penguat menuju mimpi menua bersama.

Keinginan untuk terus memupuk kebahagiaan akan menjadi pemanis perjalanan menuju mimpi menua bersama.

Keyakinan bahwa dia satu-satunya pembawa kabar tentang rindu dan cinta boleh jadi alasan dibalik setiap senyum menuju mimpi menua bersama.

Punyakah kita mimpi itu?

Mimpi untuk menua bersama.

Semoga.

Jumat, 11 Agustus 2017

Teh Jeruk Nipis vs Happiness

Pria dipenghujung usia muda itu, meminta dibuatkan teh jeruk nipis setiap harinya. Spesial dengan gula sedikit dan perasan jeruk nipis. Selama 3 hari berturut-turut teh jeruk nipis itu selalu terhidang di meja makan.

Namun di hari ke 4, sang istri membeli lemon yang sudah pasti harganya jauh lebih mahal dari si jeruk nipis. Berniat membahagiakan suami, makan campuran teh pun diganti menjadi teh lemon.

"Lemon kan lebih mahal dari jeruk nipis, pak Suami pasti lebih suka kalau disajikan dengan campuran lemon," pikirnya.

Seteguk dua teguk mulai masuk ke kerongkongan. Berharap ada pujian disana, namun tak ada sahutan.
"Jeruk nipisnya aku ganti lemon lho, lebih enak kan?"

Belum juga ada jawaban.

Berharap cemas. Ada yang salahkah?

"Aku lebih suka jeruk nipis, besok balik ke jeruk nipis lagi yah," jawabnya dengan senyuman dari pak Suami.
Disinilah letak pembelajaran mengenai happiness alias kebahagiaan. Membahagiakan pasangan adalah belajar melihat bahagia dari sudut pandang pasangan (bukan melalui persepsi diri sendiri). Pecinta gado-gado, belum tentu menikmati steak wagyu impor dengan harga termahal sekalipun. Begitu sebaliknya.
Jadi, sudah pernahkah kita bertanya pada pasangan "Apa saja yang bisa membuatmu bahagia? Ajari aku melihat sudut pandang bahagia dari kacamatamu." 

Jika belum, segera lakukan agar bahagia itu terpatri di hati... Bahagia yang benar-benar dari hati.

Kamis, 20 Oktober 2016

Si Rangrang Merah Di Bawah Langit Papua

Pemandangan alam Tanah Papua
Jumat (14/10), Surat Perjalanan Dinas (SPD) itu resmi ada ditanganku.  Ini business trip kedua terjauhku setelah Milan.  Perasaan campur aduk mulai aku rasakan, lebay mungkin tapi ini benar terjadi.  Ada kegaduhan dalam hati kecilku, antara super excited karena bisa melihat Indonesia di ujung pulau, tapi kepikiran juga dengan medan yang akan kami tempuh.  Karena tujuan perjalanan kami bukan Jayapura semata, tapi Yahukimo.  Pernah dengar? Hehe. 

Senin, 15 Agustus 2016

Pernikahan (Yang) Profesional

Jika dibaca judulnya mungkin ada sebagian pembaca yang bertanya-tanya, apa maksudnya?  Sebelum saya membahas tentang judul tulisan ini, mari kita cari dulu arti sebenarnya dari dua kata tersebut, Pernikahan dan Profesional.

Rabu, 30 Maret 2016

Dengarkan Lelahku

Lelah.
Lupa rasanya tidur nyenyak.

Bisa pinjam telinga?
Biar bisa bercerita tentang lelahku.
Boleh pinjam bahu?
Biar bisa bersandar sebentar ringankan lelahku.

Sekian.

:(